MAQURA (Membaca dan Menghafal Al-Quran)
- Hits: 12
SMP Negeri 3 Probolinggo Hadirkan Inovasi MAQURA, Bangun Generasi Qur'ani melalui Pembelajaran Berjenjang
Probolinggo – SMP Negeri 3 Probolinggo terus berinovasi dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan melalui peluncuran MAQURA (Membaca dan Menghafal Al-Qur'an), sebuah program unggulan yang dirancang untuk memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan literasi Al-Qur'an, sekaligus membentuk peserta didik yang religius, berakhlak mulia, dan memiliki kecerdasan spiritual.

Program MAQURA dikembangkan sebagai jawaban atas tantangan perkembangan zaman yang ditandai dengan semakin pesatnya penggunaan teknologi digital di kalangan remaja. Di sisi lain, sekolah menemukan bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an peserta didik masih sangat beragam, mulai dari yang belum mengenal huruf hijaiyah hingga yang telah memiliki kemampuan menghafal Al-Qur'an. Kondisi tersebut mendorong SMP Negeri 3 Probolinggo menghadirkan sistem pembelajaran Al-Qur'an yang lebih terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan.
Kepala SMP Negeri 3 Probolinggo, Rini Agustyowati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa MAQURA bukan sekadar program membaca atau menghafal Al-Qur'an, melainkan sebuah inovasi layanan pendidikan yang menempatkan kemampuan setiap peserta didik sebagai dasar dalam proses pembelajaran.
"Melalui MAQURA, kami ingin memastikan bahwa setiap peserta didik memperoleh layanan pembelajaran Al-Qur'an sesuai dengan tingkat kemampuannya. Ada yang memulai dari mengenal huruf hijaiyah, ada yang memperbaiki bacaan, dan ada pula yang fokus pada hafalan. Dengan pendekatan yang berjenjang ini, tidak ada peserta didik yang tertinggal dan setiap anak memiliki kesempatan berkembang secara optimal," ujar Rini Agustyowati.
Ia menjelaskan, keunggulan utama MAQURA terletak pada penerapan asesmen diagnostik di awal pembelajaran. Seluruh peserta didik dipetakan berdasarkan kemampuan membaca Al-Qur'an, kemudian dikelompokkan ke dalam tiga jenjang pembelajaran, yakni Kelas Mubtadi' bagi peserta didik yang masih belajar membaca dasar Al-Qur'an, Kelas Tahsin untuk memperbaiki makharijul huruf dan tajwid, serta Kelas Tahfidz bagi peserta didik yang telah lancar membaca dan siap menghafal Al-Qur'an secara bertahap.
"Model pembelajaran seperti ini membuat proses pembinaan menjadi lebih efektif karena guru dapat memberikan materi sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Dengan demikian, perkembangan kemampuan membaca maupun hafalan Al-Qur'an dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala," tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, SMP Negeri 3 Probolinggo menggandeng PPPA Darul Qur'an Surabaya dan Rumah Tahfizh Center sebagai mitra strategis. Kolaborasi tersebut menghadirkan dukungan tenaga pengajar, metode pembelajaran, pendampingan, serta sistem evaluasi yang membantu sekolah meningkatkan kualitas pembinaan Al-Qur'an. Kegiatan dilaksanakan secara rutin setiap pekan, yakni setiap hari Jumat bagi peserta didik kelas VIII dan hari Sabtu bagi peserta didik kelas VII, sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran intrakurikuler.
Menurut Rini Agustyowati, keberhasilan MAQURA tidak hanya diukur dari bertambahnya hafalan peserta didik, tetapi juga dari perubahan karakter yang tumbuh selama proses pembelajaran.
"Kami berharap peserta didik tidak hanya mampu membaca Al-Qur'an dengan baik, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Karakter disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan akhlak mulia merupakan tujuan utama yang ingin kami bangun melalui program ini."
MAQURA dilaksanakan melalui tahapan yang sistematis, mulai dari sosialisasi program kepada seluruh warga sekolah dan orang tua, asesmen diagnostik, pengelompokan peserta didik berdasarkan kemampuan, penyusunan jadwal pembinaan, pelaksanaan pembiasaan membaca Al-Qur'an, murojaah dan setoran hafalan, monitoring melalui buku mutabaah, evaluasi berkala, pemberian apresiasi bagi peserta didik yang mencapai target, hingga pengembangan dan replikasi program sebagai praktik baik di bidang pendidikan.
Sejak diterapkan, MAQURA telah membawa perubahan positif terhadap sistem pembelajaran Al-Qur'an di SMP Negeri 3 Probolinggo. Peserta didik memperoleh layanan pembelajaran yang lebih terarah sesuai tingkat kemampuannya, kemampuan membaca Al-Qur'an meningkat secara bertahap, serta budaya religius semakin tumbuh dalam kehidupan sekolah. Selain itu, antusiasme peserta didik mengikuti pembelajaran Al-Qur'an semakin tinggi, kedisiplinan meningkat, dan keterlibatan orang tua dalam pendampingan belajar di rumah juga semakin kuat.
Melalui inovasi MAQURA, SMP Negeri 3 Probolinggo menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kecerdasan spiritual peserta didik. Program ini diharapkan menjadi salah satu praktik baik yang dapat menginspirasi satuan pendidikan lain dalam membangun generasi Qur'ani yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Jurus Spega
- Hits: 11
JURUS SPEGA, Inovasi SMP Negeri 3 Probolinggo Sulap Jeruk Purut Jadi Produk Bernilai Ekonomi
KOTA PROBOLINGGO – Potensi tanaman jeruk purut yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai tanaman penghias di lingkungan sekolah kini disulap menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi melalui inovasi JURUS SPEGA (JeRUk PuRUt Siswa). Inovasi yang dikembangkan oleh UPT Satuan Pendidikan SMP Negeri 3 Kota Probolinggo ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan pendidikan, kewirausahaan, ketahanan pangan, serta pelestarian lingkungan.

JURUS SPEGA lahir dari keprihatinan terhadap belum optimalnya pemanfaatan tanaman jeruk purut yang tumbuh subur di lingkungan sekolah. Sebelum program ini dijalankan, sebagian besar buah jeruk purut hanya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, bahkan banyak yang dibiarkan membusuk tanpa memberikan nilai tambah bagi sekolah maupun peserta didik. Melalui inovasi tersebut, tanaman lokal tersebut diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi media pembelajaran kontekstual bagi siswa.
Kepala UPT SMP Negeri 3 Kota Probolinggo, Sumantri, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa JURUS SPEGA tidak hanya berorientasi pada hasil produk, tetapi juga membangun karakter dan kompetensi peserta didik.
"Kami ingin mengubah cara pandang siswa terhadap potensi yang ada di sekitar mereka. Jeruk purut yang sebelumnya dianggap biasa saja ternyata dapat diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi. Melalui JURUS SPEGA, siswa belajar mulai dari mengenali potensi, mengolah bahan baku, mengemas produk hingga memasarkannya. Dengan demikian mereka memperoleh pengalaman nyata yang tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Sumantri, S.Pd., M.Pd.
Pelaksanaan inovasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari inventarisasi tanaman jeruk purut yang ada di lingkungan sekolah, penyusunan konsep kegiatan, pelatihan kepada peserta didik, proses produksi, pengemasan, pemasaran hingga evaluasi untuk pengembangan produk secara berkelanjutan. Seluruh tahapan tersebut melibatkan siswa secara aktif sehingga pembelajaran berlangsung melalui praktik langsung (learning by doing).
Melalui inovasi ini, peserta didik berhasil menghasilkan beragam produk olahan seperti sirup pokak berbahan dasar jeruk purut, puding atau agar-agar, peyek, serta berbagai produk olahan lain yang memiliki nilai jual. Selain meningkatkan kreativitas siswa, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman dalam proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran produk kepada masyarakat.
Menurut Sumantri, inovasi JURUS SPEGA juga menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek yang mendukung penguatan karakter peserta didik.
"Kami berharap melalui program ini lahir generasi yang kreatif, inovatif, mandiri, dan mampu melihat peluang usaha dari potensi lokal. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun keterampilan hidup yang bermanfaat bagi masa depan peserta didik," tambahnya.
Selain menghasilkan produk unggulan sekolah, JURUS SPEGA juga memperkuat budaya inovasi di lingkungan SMP Negeri 3 Kota Probolinggo. Program ini berhasil meningkatkan pemanfaatan tanaman jeruk purut yang sebelumnya kurang bernilai menjadi komoditas produktif, memperkuat kolaborasi antara sekolah dengan berbagai pemangku kepentingan, serta menjadi praktik baik (best practice) yang berpotensi direplikasi oleh sekolah lain di Kota Probolinggo maupun daerah lainnya.
Melalui inovasi JURUS SPEGA, SMP Negeri 3 Kota Probolinggo menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber pembelajaran yang inovatif sekaligus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menghadirkan solusi nyata melalui kreativitas peserta didik dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Bank Sampah Digital
- Hits: 11
SMP Negeri 3 Kota Probolinggo Hadirkan Bank Sampah Digital, Inovasi Kelola Sampah Berbasis Teknologi
Probolinggo – SMP Negeri 3 Kota Probolinggo menghadirkan inovasi Bank Sampah Digital, sebuah sistem pengelolaan sampah plastik berbasis aplikasi yang mengintegrasikan proses pemilahan, penimbangan, pencatatan transaksi, tabungan sampah, hingga pelaporan dalam satu platform digital. Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah.

Kepala SMP Negeri 3 Kota Probolinggo, Sumantri, S.Pd., M.Pd., mengatakan Bank Sampah Digital merupakan jawaban atas tantangan pengelolaan sampah yang selama ini masih dilakukan secara manual sehingga proses administrasi membutuhkan waktu lama dan berpotensi menimbulkan kesalahan pencatatan.
"Melalui Bank Sampah Digital, kami mentransformasikan pengelolaan sampah menjadi lebih modern, akurat, transparan, dan mudah diakses. Inovasi ini bukan sekadar digitalisasi administrasi, tetapi menjadi bagian dari pendidikan karakter yang mengajarkan peserta didik untuk peduli terhadap lingkungan sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif," ujar Sumantri.
Menurutnya, sebelum inovasi diterapkan, seluruh transaksi bank sampah masih dicatat menggunakan buku administrasi. Kondisi tersebut menyebabkan proses rekapitulasi berjalan lambat, riwayat tabungan sulit dipantau, serta laporan pengelolaan sampah membutuhkan waktu yang relatif lama untuk disusun.

Kini, seluruh proses dilakukan secara digital. Setiap penyetoran sampah langsung menghasilkan data yang memuat identitas penyetor, jenis sampah, berat, nilai tabungan, dan riwayat transaksi. Sistem juga dilengkapi dashboard monitoring yang menyajikan perkembangan volume sampah, tabungan setiap peserta didik, peringkat kelas paling aktif, hingga laporan berkala yang dapat diakses secara real time.
Sumantri menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama inovasi ini adalah digitalisasi menyeluruh terhadap proses pengelolaan sampah. Selain meningkatkan akurasi pencatatan, sistem juga menyediakan akun digital bagi setiap nasabah, rekapitulasi otomatis berdasarkan jenis dan berat sampah, analisis data, serta leaderboard yang mendorong partisipasi aktif warga sekolah. Inovasi ini juga terintegrasi dengan Program Adiwiyata sebagai bentuk implementasi Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBLHS).
"Bank Sampah Digital membangun kebiasaan baru di sekolah. Peserta didik tidak hanya belajar memilah sampah, tetapi juga memahami bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Seluruh proses dapat dipantau secara terbuka sehingga meningkatkan kepercayaan dan partisipasi warga sekolah," katanya.
Ia menambahkan, inovasi tersebut mendukung berbagai kebijakan nasional, mulai dari transformasi digital, penguatan pendidikan karakter, ekonomi sirkular, hingga pengurangan sampah dari sumbernya. Di tingkat sekolah, sistem ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Sejak diterapkan, Bank Sampah Digital telah menghasilkan sistem pencatatan transaksi otomatis, database pengelolaan sampah yang terdokumentasi secara sistematis, dashboard monitoring, serta mekanisme administrasi yang lebih efektif dibandingkan sistem manual. Dampaknya antara lain meningkatnya partisipasi warga sekolah dalam memilah sampah, meningkatnya efisiensi administrasi, tersedianya data yang lebih akurat dan transparan, serta berkurangnya volume sampah plastik yang tidak terkelola di lingkungan sekolah. SMP Negeri 3 Kota Probolinggo berharap inovasi tersebut dapat menjadi praktik baik yang dapat direplikasi oleh sekolah lain dalam mendukung transformasi digital dan pelestarian lingkungan.
Smart Spega
- Hits: 27
SMART SPEGA, Inovasi Digital SMPN 3 Probolinggo Perkuat Pembinaan Karakter dan Kolaborasi Orang Tua
https://smpn3-pbl.sch.id/
KOTA PROBOLINGGO – SMP Negeri 3 Probolinggo terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui peluncuran SMART SPEGA (Smart Student Monitoring, Reward, Evaluation and Guardian Application). Inovasi berbasis digital ini dikembangkan sebagai sistem terpadu untuk membantu guru memantau perkembangan karakter peserta didik, memberikan apresiasi, mencatat pelanggaran, sekaligus memperkuat komunikasi antara sekolah dan wali murid.

Kepala SMP Negeri 3 Probolinggo, Rini Agustyowati, mengatakan bahwa SMART SPEGA lahir sebagai jawaban atas kebutuhan sekolah akan sistem pembinaan peserta didik yang lebih efektif, transparan, dan terdokumentasi.
"Pembentukan karakter peserta didik tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Dibutuhkan sistem yang mampu mendokumentasikan setiap perkembangan peserta didik secara berkelanjutan dan dapat diketahui bersama oleh guru maupun orang tua. SMART SPEGA kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan tersebut," ujar Rini Agustyowati.
Menurutnya, sebelum inovasi ini diterapkan, pencatatan perilaku peserta didik masih dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu cukup lama dalam proses rekapitulasi dan penyampaian informasi kepada wali murid. Selain itu, dokumentasi penghargaan maupun pelanggaran belum terintegrasi dalam satu sistem.
Melalui SMART SPEGA, guru dapat mencatat aktivitas peserta didik secara langsung melalui aplikasi berbasis web. Aktivitas tersebut meliputi perilaku positif, prestasi, kedisiplinan, hingga pelanggaran tata tertib sekolah. Seluruh data tersimpan dalam satu basis data sehingga dapat dipantau secara real time oleh guru, wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling (BK), kepala sekolah, maupun wali murid sesuai hak akses masing-masing.
Tidak hanya berfungsi sebagai media pencatatan pelanggaran, SMART SPEGA juga menerapkan pendekatan reward and punishment yang seimbang. Guru dapat memberikan apresiasi terhadap perilaku positif peserta didik sehingga diharapkan mampu meningkatkan motivasi, kedisiplinan, serta budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.
"Kami ingin membangun budaya sekolah yang lebih positif. Anak-anak tidak hanya diingatkan ketika melakukan pelanggaran, tetapi juga diberikan penghargaan ketika menunjukkan sikap disiplin, bertanggung jawab, berprestasi, atau membantu sesama. Penguatan perilaku positif inilah yang menjadi salah satu nilai utama SMART SPEGA," jelas Rini.
Rini menambahkan, keterlibatan orang tua menjadi salah satu aspek penting dalam inovasi ini. Melalui akun wali murid, orang tua dapat memantau perkembangan putra-putrinya tanpa harus menunggu pembagian rapor atau pemanggilan ke sekolah. Informasi mengenai penghargaan, pelanggaran, maupun catatan guru dapat diakses secara daring sehingga komunikasi antara sekolah dan keluarga menjadi lebih cepat dan efektif.
Selain memberikan kemudahan bagi wali murid, SMART SPEGA juga mendukung pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Kepala sekolah memperoleh dashboard analitik yang menampilkan statistik penghargaan, pelanggaran, perkembangan karakter peserta didik, serta berbagai indikator lain yang dapat digunakan sebagai dasar evaluasi program pembinaan.
Dengan sistem yang terintegrasi, proses administrasi pembinaan peserta didik menjadi lebih sederhana, akurat, dan efisien. Guru tidak lagi melakukan pencatatan pada beberapa buku administrasi yang berbeda karena seluruh data telah tersimpan secara digital dan dapat direkap secara otomatis.
Ke depan, SMP Negeri 3 Probolinggo berkomitmen untuk terus mengembangkan SMART SPEGA dengan menambahkan berbagai fitur yang mendukung transformasi digital pendidikan, sekaligus memperluas pemanfaatannya sebagai praktik baik dalam pengelolaan pembinaan karakter peserta didik.
Melalui inovasi ini, SMP Negeri 3 Probolinggo berharap dapat mewujudkan lingkungan belajar yang lebih disiplin, transparan, kolaboratif, serta mendukung terciptanya peserta didik yang berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.






